JAKARTA, KOMPAS.com - Membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi langkah pertama Soeharto tak lama setelah menerima Surat Perintah 11 Maret 1966 ( Supersemar) dari Presiden Soekarno. Saat itu, Soeharto masih duduk sebagai Panglima Angkatan Darat (AD). Tepat satu hari setelah mengantongi Supersemar yakni 12 Maret 1966, Soeharto, dengan "Kita tahu di Indonesia Bung Karno diganti Pak Harto. Kita katakan prosesnya di Indonesia, tapi dari dokumen yang bisa dibuka ada peran CIA (Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat)," jelas dia. Hikmahanto mengajak seluruh pihak mewaspadai adanya tangan asing yang ikut campur. Supaya pemimpin terpilih betul-betul memperjuangkan kepentingan Puisi demonstran dibaca di hadapan ratusan pendemo, polisi, TNI, dan Satpol PP. Aksi damai demonstrasi itu menuntut turun harga minyak goreng, sembako, BBM, dan penolakan penundaan Pemilu 2024. bung karno diganti pak harto. dengan dalih keamanan negara. pembantaian enam jenderal satu perwira. enam jam dalam satu malam. mati di lubang tak Beginilah penuturan langsung Pak Harto dalam buku tersebut. Di saat demonstrasi mahasiswa mewarnai suasana Jakarta, di Istana Merdeka saya mengadakan dialog dengan Bung Karno. Itu menyambung pembicaraan mengenai situasi dan mengenai PKI. Saya berkeyakinan bahwa pikiran Bung Karno mengenai jalan keluar kurang tepat. peralihan kepemimpinan yang mendesak bung karno diganti pak harto dengan dalih keamanan negara pembantaian enam jendral satu perwira enam jam dalam satu malam mati dilubang tak berguna tak ada dalam perang mahabarata bahkan disejarah dunia hanya disejarah indonesia pemusnahan golongan kiri PKI wajib mati. Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak Kenang, kenanglah kami Teruskan, teruskan jiwa kami Menjaga Bung Karno menjaga Bung Hatta menjaga Bung Sjahrir. Kami sekarang mayat Berikan kami arti Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian. Kenang, kenanglah kami CzNu.

puisi bung karno diganti pak harto